Indonesia dan Turki resmi memperkuat kerja sama ketenagakerjaan melalui penandatanganan Joint Action Plan (JAP) 2026-2027. Kesepakatan ini menjadi langkah strategis kedua negara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), memperluas modernisasi layanan ketenagakerjaan, serta memperkuat pelatihan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam The First Joint Working Commission (JWC) yang dipimpin Menteri Ketenagakerjaan RI, Yassierli, bersama Menteri Perburuhan dan Jaminan Sosial Republik Turki, Vedat Işıkhan, di Jakarta.
Pertemuan perdana itu ditandai dengan penandatanganan Protocol of the First Joint Working Commission sebagai tindak lanjut Memorandum of Understanding (MoU) on Cooperation in the Field of Labour yang telah disepakati Indonesia dan Turki di Baku, Azerbaijan, pada 22 November 2023.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan, Joint Action Plan Indonesia-Turki 2026-2027 merupakan wujud nyata komitmen kedua negara untuk menerjemahkan kerja sama bilateral ke dalam program yang berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas tenaga kerja.
”Saya meyakini bahwa kolaborasi yang semakin erat antara Indonesia dan Turki tidak hanya memberikan manfaat bagi kedua negara, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam menghadirkan solusi atas berbagai tantangan ketenagakerjaan global demi membangun pasar kerja yang lebih inklusif, adaptif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat,” ujar Yassierli dalam keterangan tertulis, Senin (27/7/2026).
Menurut Yassierli, rencana aksi tersebut mencakup sejumlah program prioritas, mulai dari pengembangan kebijakan pasar kerja, digitalisasi layanan ketenagakerjaan, penguatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga pelaksanaan berbagai proyek kerja sama internasional.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan implementasi setiap program akan menjadi indikator keberhasilan kerja sama Indonesia dan Turki sekaligus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kompetensi tenaga kerja, penguatan kelembagaan, dan kesejahteraan pekerja.
”Keberhasilan implementasi setiap kegiatan akan menjadi indikator nyata keberhasilan kerja sama bilateral sekaligus memberikan dampak konkret bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, serta kesejahteraan pekerja di kedua negara,” katanya.
Indonesia Tertarik Adopsi Model Factory Turki
Salah satu hasil penting dalam pertemuan tersebut adalah ketertarikan Indonesia mempelajari konsep Model Factory yang dikembangkan Turki sebagai bagian dari transformasi sistem pelatihan vokasi nasional. Minat tersebut muncul setelah Pemerintah Turki memaparkan keberhasilan konsep itu dalam meningkatkan produktivitas industri pada Konferensi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) 2025.
Berbeda dengan balai pelatihan konvensional, Model Factory berfungsi sebagai pusat pembelajaran sekaligus pusat konsultasi bagi usaha kecil dan menengah (UKM). Pendekatan ini menerapkan prinsip lean production untuk meningkatkan efisiensi produksi, produktivitas, serta mengurangi pemborosan di sektor industri.
Sebagai tindak lanjut kerja sama, Indonesia mengusulkan program berbagi pengetahuan, pertukaran pengalaman, dan penguatan fungsi balai pelatihan vokasi agar semakin sesuai dengan kebutuhan industri modern.
”Indonesia melihat pengalaman sukses Turki dalam pengembangan Model Factory sebagai peluang untuk mengakselerasi transformasi balai pelatihan vokasi. Kami ingin mentransfer prinsip dan metode tersebut agar balai pelatihan tidak hanya mencetak SDM unggul, tetapi juga mampu mendampingi UKM meningkatkan produktivitas dan efisiensi,” ujar Yassierli.
Kerja Sama Indonesia-Turki Perkuat Daya Saing Tenaga Kerja
Melalui Joint Action Plan 2026-2027, Indonesia berharap kualitas pelatihan vokasi semakin meningkat, ekosistem ketenagakerjaan semakin kuat, dan daya saing tenaga kerja nasional mampu bersaing di pasar global.
Kesepakatan ini juga menjadi tonggak penting dalam hubungan bilateral Indonesia dan Turki. Selain memperkuat diplomasi kedua negara, kerja sama tersebut membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di bidang pengembangan SDM, inovasi ketenagakerjaan, serta pembangunan pasar kerja yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan di tengah dinamika dunia kerja global.
